AWS A5.1 classification system

Sistem klasifikasi untuk elektroda (kawat las) salah satunya adalah AWS filler metal specifications. Salah satunya adalah AWS A5.1 yaitu spesifikasi kawat las (elektroda) untuk pengelasan baja karbon dengan proses pengelasan SMAW/SAW. Contoh dari spesifikasi tersebut adalah kawat las E6010. Huruf “E” pada penomoran/pengkodean merupakan singkatan dari Electroda. Kemudian digit ke-2, yaitu “60”, mengartikan kekuatan tarik yaitu minimal 60 ksi. Digit ke-3 menunjukan posisi pengelasan yang dibolehkan untuk menghasilkan lasan yang diinginkan dengan elektroda tersebut. Pada contoh di atas angka “1” menunjukan semua posisi pengelasan bisa dipakai yaitu flat, horizontal, vertikal dan overhead. Untuk dua digit terakhir menunjukan tipe arus dan tipe dari pembungkus elektroda (covering electrode).

Tabel 1 dan 2 adalah tabel elektroda yang sesuai klasifikasi AWS A5.1

Tabel 1

Tabel 1 (Ref: CASTI Metal Blue Book)

Tabel 2

Tabel 2 (Ref: CASTI Metal Blue Book)

Soil Corrosion

Karakteristik physical dan chemical tanah sangat mempengaruhi tingkat korosi. Tanah yang kasar, berpasir cenderung mudah untuk dilewati oleh air dan udara. Namun, lempung, atau silt menunjukan tingkat aerasi dan drainase yang buruk. Underground storage tank, pipelines transmisi minyak dan gas, pipelines distribusi, dan struktur lainnya yang tertanam dalam tanah beresiko terkena korosi tanah.

Gambar 1. Aliran elektron yang memakai tanah sebagai penghantarnya.

Read the rest of this entry

Internal Corrosion

Korosi pada bagian dalam atau yang lebih dikenal sebagai internal corrosion adalah korosi pada suatu jaringan pipeline yang didalam pipa tersebut mengalirkan fluida dengan fasa jamak. Fasa jamak tersebut terdiri dari air dan kontaminannya, gas contoh O2, H2S, CO2 atau chloride.

Top-of-the-line corrosion

Top-of-the-line corrosion (TLC) terjadi pada pipeline yang memindahkan fluida berupa gas basah. Kerena terjadi transfer panas ke lingkungan mengakibatkan terjadinya kondensasi uap air yang terbawa gas basah. Efek gravitasi mengakibatkan sebagian besar condensed water mengalir ke bagian bawah (bottom) pipa. Penggunaan inhibitor untuk mengurangi laju korosi sangatlah tidak efektif mengingat letak korosi pada bagian atas pipa.

Gambar 1. Proses kondensasi pada pipa [1].

Read the rest of this entry

Tutorial ANSYS Design Modeler

Salah satu langkah dalam pemodelan masalah rekayasa menggunakan metode elemen hingga dengan ANSYS, adalah membangun bentuk geometri benda yang akan kita analisa. Design Modeler adalah fasilitas dalam ANSYS Workbench yang digunakan untuk membangun geometri model yang akan dianalisa. Juga dapat digunakan untuk memodiifikasi hasil gambar dari perangkat lunak CAD.

Dalam tutorial ini saya akan membangun poros (sangat) sederhana. Read the rest of this entry

ANSYS Workbench

ANSYS Workbench adalah salah satu perangkat lunak berbasiskan metode elemen hingga yang dipakai untuk menganalisa masalah-masalah rekayasa (engineering). ANSYS Workbench menyediakan fasilitas untuk berinteraksi antar solvers famili ANSYS. ANSYS Workbench juga dapat berintegrasi dengan perangkat lunak CAD Read the rest of this entry

Sistem Penomoran AISI, SAE, dan UNS

Awalnya AISI (The American Iron & Steel Institue) memiliki standard yang diterima luas di Amerika serikat dan Negara lainnya. Tetapi standard AISI tidak mencakup semua jenis logam/metal, dan tidak begitu informatif megenai properties beberapa logam. Read the rest of this entry

Metals Code: Standard Untuk Logam

Metal Standard adalah kesepakatan dalam dunia industri tentang bagaimana mendefinisikan logam/metal. Logam didefinisikan dalam bentuk informasi komposisi kimianya, proses manufakturnya, proses perlakuan panas yang diterima, dan informasi lainnya. Standard biasanya disajikan dalam bentuk rangkain huruf dan atau angka yang masing-masing memiliki informasi dari logam tersebut. Read the rest of this entry

Metode Elemen Hingga (Finite Element Methode)

Finite Element Method (FEM) atau biasanya disebut Finite Element Analysis (FEA), adalah prosedur numeris yang dapat dipakai untuk menyelsaikan masalah-masalah dalam bidang rekayasa (engineering), seperti analisa tegangan pada struktur, frekuensi pribadi dan mode shape-nya, perpindahaan panas, elektromagnetis, dan aliran fluida (Moaveni).

Metode ini digunakan pada masalah-masalah rekayasa dimana exact solution/analytical solution tidak dapat menyelsaikannya. Inti dari FEM adalah membagi suatu benda yang akan dianalisa, menjadi beberapa bagian dengan jumlah hingga (finite). Bagian-bagian ini disebut elemen yang tiap elemen satu dengan elemen lainnya dihubungkan dengan nodal (node). Kemudian dibangun persamaan matematika yang menjadi reprensentasi benda tersebut. Proses pembagian benda menjadi beberapa bagian disebut meshing. Read the rest of this entry

Oil whirl & Oil Whip

Salah satu masalah dalam rotating equipment yang memakai journal bearing adalah oil whirl dan oil whip. Fenomena ini tidak di temukan pada mesin yang memakai bantalan gelinding (roller element bearing). Pada journal bearing yang memikul beban rotor adalah lapisan pelumas yang bertekanan yaitu dengan adanya oil wedges. Mengenai prinsip kerja bearing hidrodinamis baca hidrostatic bearing dan hydrodynamic bearing.

Oil whirl

Gambar 1. Cara kerja bearing hidrodinamis.

Oil whirl adalah terjadi getaran dimana yang mengeksitasi adalah lapisan tipis minyak pelumas (oil film) pada journal bearing. Read the rest of this entry

Hydrostatic bearing dan Hydrodynamic bearing

Fluid Film bearing adalah jenis bearing dimana beban rotor ditopang oleh lapisan tipis (film) fluida/pelumas yang berada di antara rotating (rotor) dan non-rotating (bearing) element. Jenis bearing ini antara lain journal bearing untuk menahan beban radial dan thrust bearing untuk menahan beban aksial. Berdasarkan prinsip kerjanya fluid film bearing dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Hydrostatic bearing
2. Hydrodynamic bearing Read the rest of this entry

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.